Broadcasting Part4

IP Digital Broadcasting Diluncurkan
Jumat,22 November 2002 08:50
Samsung Electronic akan meluncurkan IP set-top-boxes model SMT-F240 sebagai IP digital broadcasting pertama di dunia. Layanan itu sendiri mulai diterbitkan di pasaran pada bulan November 2002 ini yang ditangani Softbank Broadmedia, bagian dari SoftbankGroup.

Sedianya Samsung Electronic akan menjadi vendor tunggal untuk menyuplai permintaan set-top boxes untuk memenuhi permintaan layanan tadi. Demikian diungkapkan oleh Marketing Public Relation Samsung, Shinta Wardiastuti, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk itu, Samsung telah dikontrak untuk mengirim IP set-top-boxes senilai 30 juta dolar AS sepanjang tahun 2003. Target utama layanan IP digital broadcasting adalah peralatan rumah tangga yang berlangganan layanan ADSL yang telah disediakan oleh Yahoo, operator telekomunikasi di Jepang.

Layanan IP digital broadcasting akan diluncurkan pertama kali di Tokyo. Lewat ini, Softbank Broadmedia akan meng-install beberapa unit di rumah-rumah Jepang yang memungkinkan pengguna mengakses video on demand yang interaktif paling tidak lima belas digital broadcasting channel 24 jam sehari. c21

Perlu Kurangi Populasi Rokok

Apabila dilihat dari populasi perokok di Indonesia maka biaya yang harus dikeluarkan untuk rokok per tahun sebesar Rp 70 triliun. Padahal rokok lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaatnya, sementara berbagai penyakit dan efek samping akibat merokok sangat banyak.

“Karena itu perlu dibuat suatu solusi yang perlu usaha keras dari semua pihak baik LSM, pemda, pemerintah pusat untuk mengurangi jumlah populasi perokok,“ kata Ketua Koalisi Indonesia Sehat, Doddy P Partomihardjo kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Saat ini, kata Doddy, Koalisi Indonesia Sehat mulai membidik anak-anak SMP supaya mereka mengetahui masalah rokok. Penjelasan diberikan dari sudut pandang kesehatan seperti apa itu rokok, sejarahnya, mengapa mereka merokok, apa mudaratnya, dan lain-lain.

Dengan begitu, jelas Doddy, diharapkan mereka betul-betul menyadari bahwa merokok itu tidak baik bagi dirinya. “Selanjutnya, mereka memilihi untuk tidak merokok,“ tandasnya.

Sementara itu di tempat terpisah Sekretaris Utama Badan POM, Mawarwati Djamaluddin, mengungkapkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 dikhawatirkan akan dicabut. Ini terjadi gara-gara petani tembakau berdemo, padahal PP tersebut untuk mengamankan kesehatan masyarakat dan tidak menentang petani tembakau.

Seharusnya sejak dikeluarkan PP tersebut, deperindag, deptan, dan dephut harus cepat-cepat menyiapkan teknologi untuk diversifikasi tembakau. Di Thailand dan Malaysia saja, kata dia, bisa melakukan diversifikasi tersebut.

PP Nomor 81 Tahun 1999 tersebut hanya untuk membatasi kadar nikotin dan tar. Lagi pula, kata Mawarwati, untuk tidak memberatkan petani kecil, maka penerapan PP tersebut ada tenggang waktu.

Misalnya, untuk mereka yang memproduksi rokok kretek buatan mesin, diterapkannya PP tersebut paling lambat 7 Juni 2007, sedangkan untuk industri kecil (buatan tangan) diterapkannya paling lambat 7 Juni 2010. nri

Perlu Kemauan Untuk Bangun Negara Maritim

Meski sebagian besar wilayah Indonesia berupa lautan, namun pemerintah dinilai belum memberikan perhatian cukup bagi pengembangan kemaritiman, khususnya pengembangan industri perkapalan.

“Harus ada political will dari pemerintah untuk memajukan dan mengembangkan industri maritim nasional,“ ujar Harijogi, ketua Himpunan Ahli Teknologi Maritim Indonesia (HATMI) bidang Transportasi saat berbuka puasa dengan wartawan di Jakarta, Senin (11/11).

Menurut Harijogi, pemerintah mesti mendorong terciptanya komitmen nasional untuk membangun Indonesia sebagai negara maritim. Untuk itu diperlukan adanya persamaan persepsi, visi, dan misi.

Selain itu, juga mendorong terciptanya kebijakan nasional guna membangun kekuatan maritim nasional dari berbagai aspek. Ini seperti aspek regulasi, pengutamaan penggunaan produksi kapal dalam negeri, pembiayaan, keringanan pajak, bea masuk, insentif, dan asuransi.

Sementara itu Drs Barens Th Saragih, penasihat HATMI yang hadir pada acara itu mengatakan, aturan-aturan yang mengikat dunia perbankan saat ini tidak memungkinkan bagi pengembangan industri perkapalan di dalam negeri. Menurut ketua INSA (Persatuan Pelayaran Niaga Indonesia) ini, bunga bank yang tinggi dan skim kredit yang berlaku saat ini amat memberatkan dan sangat tidak membantu industri perkapalan nasional yang bersifat slow yielding. (Republika)
http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=540, Google, 01/112007, 20.37

Broadcasting part3

92,2 MENTARI-FM DAN P3NF MAJELIS DIKDASMEN PDM SURABAYA GELAR TRAINING RADIO BROADCASTING FOR STUDENT

Pusat Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal (P3NF) Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya mempunyai kewajiban dalam mendidik remaja dan khususnya para pelajar Muslim agar tidak mengesampingkan pendidikan seni dan budaya, bahkan menjadikan kegiatan itu sebagai kegiatan efektif untuk menumbuh-kembangkan kreatifitas khususnya di kalangan pelajar sebagai generasi muda Islam serta sebagai generasi penerus bangsa yang mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan bermanfaat dengan dilandasi iman dan taqwa kepada Allah SWT. Selain itu juga dalam rangka mencapai tujuan jiwa yang berbudaya dengan selalu menjaga nilai nilai keislaman, maka diselenggarakan suatu wadah pengembangan potensi yang mendidik, menarik, sehat dan penuh nilai nilai kebudayaan Islami, serta berguna bagi kehidupan masa ini dan dimasa yang akan datang.

Pengembangan minat dan bakat para pelajar Muslim dalam bidang seni budaya perlu dikembangkan ke dalam model pembinaan yang lebih menitikberatkan pada upaya peningkatan ketrampilan, kepercayaan diri, life skill (kecakapan hidup) dan pengembangan profesi. Bidang Radio Broadcasting dipilih karena mempunyai prospek yang cerah di masa mendatang sebagai jembatan pengembangan profesi dan wahana penyampaian informasi dan komunikasi. Namun demikian diperlukan penyiapan SDM yang memadai guna mendukung program tersebut. Karena permasalahan utama yang sering dihadapi adalah kurangnya SDM yang handal dalam bidang itu. Berkaitan dengan permasalahan SDM penyiaran radio, sangat dirasakan keterbatasan dan kesenjangan yang demikian besar antara harapan dan kenyataan karena SDM yang ada belum mempunyai pengalaman dan pendidikan di bidang radio broadcast.

Oleh karena itu dalam rangka mengatasi hal tersebut serta untuk mencapai tujuan yang hendak diraih, baik untuk saat ini maupun di masa yang akan datang, maka Pusat Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal (P3NF) Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya dan Radio Komunitas 92.2 Mentari-FM Surabaya mengadakan TRAINING RADIO BROADCASTING FOR STUDENT yang diikuti oleh 29 orang siswa / siswi SMP, SMA/SMK Muhammadiyah dan 5 orang dari MAN dan SMA Negeri di Surabaya. Acara tersebut memiliki tujuan yaitu untuk membentuk kader muda khususnya pelajar di bidang penyiaran khususnya Radio Broadcast, meningkatkan minat pelajar Muslim di bidang radio broadcast dan memasyarakatkan Radio Lokal Sekolah khususnya di perguruan Muhammadiyah Surabaya.

Training Dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2007 bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl. Sutorejo (Labansari) Surabaya, dengan instruktur Djodi Rahardjo (DRAPS Talent & Broadcast School / Presenter JTV) dan para Crew Radio Mentari-FM. Materi yang diberikan meliputi (1) Mengenal Radio Broadcast. (2) Teknik Bertutur dan Bersiaran di Radio. (3) Membuat Acara Radio. (4) Kiat Mendirikan Radio Sekolah dan (5) Audisi untuk mengetahui potensi dan kemampuan dasar para peserta.

Surabaya, 31 Juli 2007

ADITIO YUDONO

Programmer Mentari-FM 92.2 Mhz Surabaya

Posted by Muchlas at Thursday, August 02, 2007
http://muhammadiyah-radkom.blogspot.com/2007/08/922-mentari-fm-dan-p3nf-majelis_02.html, Google, 01/11/2007, 20.21

Broadcasting part2

UU HaKI : Perlindungan Industri Tayangan TV Lemah
W-10

JAKARTA – Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang hak cipta (HaKI) telah dilaksanakan. Hanya saja, penegakan hukum dari UU HaKI tersebut masih jauh dari yang diharapkan. Bahkan perlindungan terhadap karya cipta dari industri tayangan dan pertelevisian masih sangat lemah. Sehingga aksi saling membajak terus berlangsung.

Hal itu terungkap dalam seminar Hak Cipta Atas Seni Pertunjukan yang digelar Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia belum lama ini di Jakarta. Tampil sebagai pembicara, produser acara televisi Helmy Yahya, General Manager Asosiasi Industri Musik Rekaman (ASIRI) Arnel Affandi dan Ketua Umum Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) Rinto Harahap.

Menurut Helmy, dalam UU HaKI tidak diatur secara tegas kegiatan dalam industri broadcasting (tayangan). Seperti peraturan perjanjian kontrak antara pihak rumah produksi dengan stasiun televisi, atau siapa yang memegang hak cipta atas hasil produksi sebuah tayangan.

Dia mencontohkan, ketika Kuis Siapa Berani meraih sukses lewat konsep peserta yang kolosal dan yel-yel tak lama kemudian hampir sebagian besar kuis meniru konsep yang sama. “Saya tidak bisa menuntut apa-apa untuk itu karena memang tidak ada aturannya,” kata Direktur Utama PT Triwarsana itu dengan nada sesal.

Karena itu, menurut Helmy, tidak bisa disalahkan jika sekarang layar kaca dibanjiri tayangan yang senada seperti infotainment, misteri, kriminal dan reality show. Seperti PT Triwarsana, selain memproduksi kuis Siapa Berani dan Gosip atau Fakta juga membuat tayangan Asal, Mimpi Kali Yee, Selebritis Nginap dan Was Was. “Keseragaman itu tidak bisa dihindari. Tinggal masalah etika di antara para pelaku tayangan saja,” ujarnya.

Selain itu, akibat kelemahan aturan tersebut industri tayangan dan pertelevisian Indonesia banyak mengadaptasi berbagai bentuk tayangan dari negara maju seperti Amerika dan Eropa tanpa sadar bahaya yang mengancam. Pasalnya, di luar negeri sejumlah broadcasting yang menciptakan konsep dan bentuk tayangan seperti kuis, permainan dan reality show telah mempatenkan karya mereka. Dan banyak yang tidak memperbolehkan karya itu disiarkan dalam bentuk saduran apapun.

Hal itu pernah dialami oleh Helmy ketika dia menggarap kuis Beranda Nada yang mirip dengan Berpacu dalam Melodi. Ternyata konsep tayangan tersebut telah dipatenkan oleh sebuah stasiun televisi Colombia. Mereka pun melancarkan protes dan melarang penayangan itu. Padahal hampir semua bentuk permainan, kuis dan reality show yang ditayangkan stasiun televisi Tanah Air terinspirasi tayangan luar negeri. Contohnya tayangan Kuis Siapa Berani yang diproduksi PT Triwarsana milik Helmy yang terinspirasi dari kuis Jeopardy dan Who Wants To Be Miliuner. Demikian juga dengan kontes vokal Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang mengadaptasi tayangan La Academia dari Meksiko.

“Jika ternyata dunia barat melarang hal itu, kita tidak akan pernah membuat tayangan apapun,” ucap Helmy lagi.

Kelemahan lain, para pelaku di industri tersebut terutama pihak rumah produksi sangat tergantung pada produsen yakni 11 stasiun televisi. Sehingga, sering kali untuk menjaga hubungan baik, banyak program dan ide yang terpaksa dikorbankan. “Ini memang tidak sehat, tapi mau bagaimana lagi. Kami sangat bergantung pada konsumen yakni pihak stasiun televisi. Merekalah yang memiliki broadcasting right, sedangkan pihak rumah produksi hanya bisa mendapat trademark dan bukan hak paten. Sekali lagi tidak ada aturan yang mengatur mengenai semua itu,” ucapnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan aturan main di industri musik. Bahkan pihak Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dan KCI telah melakukan langkah-langkah yang mengatur pelaksanaan UU HAKI secara rinci. Termasuk mengenai royalti, pengalihan hak cipta serta hak atas rekaman suara dan pertunjukan. Hanya saja, seperti diungkapkan Arnel, penegakan hukum untuk semua itu masih sangat lemah. Apalagi masih banyak pihak seperti pencipta lagu, produser dan artis yang belum memahami persoalan ini secara rinci.

Tak heran jika estimasi ASIRI, tingkat pembajakan dalam dua tahun terakhir telah mencapai 700 persen dari produk musik Indonesia legal yang beredar di pasar. Artinya produksi musik yang legal saat ini menjadi kurang dari tiga juta keping per bulan. “Situasi ini telah sangat membahayakan kelangsungan hidup musik Indonesia. Dalam beberapa tahun mendatang tingkat pembajakan akan menyentuh angka 1.000 persen. Jika terjadi maka tidak akan ada lagi produksi album baru, artis baru dan lagu baru. Karena industrinya telah gulung tikar,” papar Arnel.

“Karena itu ASIRI dan KCI bersedia menjadi wadah untuk pengelolaan tersebut,” ucap Rinto. Kekuatan hukum UU tersebut dengan tegas menyebutkan sanksi bagi pembajak dengan pidana lima tahun dengan denda minimal Rp 500 juta.

Sumber : Suara Pembaruan (3 April 2004)
» kirim ke teman
» versi cetak
http://www.haki.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1104523647&2, Google, 01/11/2007, 20.17

Broadcasting part1

Digital Multimedia Broadcasting
DMB & WiBro: Industri Unggulan Masa Depan Korea

Korea Selatan semakin menunjukkan keunggulannya di dunia ICT, terutama melalui kepemim-pinannya dalam mengembang-kan teknologi-teknologi unggulan, salah satu-nya Digital Multimedia Broadcasting.

Kepemimpinan Korea Selatan dalam Internet broadband, tampaknya bukan satu-satunya keunggulan negeri ginseng ini di fora industri dan bisnis dunia. Ini dibuktikan dengan mencuatnya kembali nama Korea Selatan dalam bisnis Digital Multimedia Broadcasting (DMB) dan WiBro ( Portable Internet ). DMB merupakan teknologi yang mendukung munculnya layanan siaran TV di telepon seluler alias ponsel. Sedang WiBro ( wireless broadband ), memungkinkan para pengguna ponsel mengakses Internet berkapasitas besar, kapan dan di mana saja sehingga lebih mudah menerima berbagai layanan baru di ponsel, misalnya siaran TV, video on demand, download musik dan sebagainya.

Dengan begitu, menyatunya kedua layanan tersebut di ponsel akan semakin mendorong pengembangan pasar ponsel berkemampuan DMB dan WiBro, ditambah siaran TV di ponsel. Hal ini diperkirakan tidak hanya akan berdampak terhadap layanan-layanan baru di ponsel, yang sudah tentu didahului dengan tersedianya secara luas ponsel-ponsel berkemampuan DMB dan WiBro, juga akan semakin mendorong perkembangan industri konten dan terbukanya berbagai lapangan kerja baru dan tenaga kerja berbasis pengetahuan yang semakin luas. Dampak berikutnya adalah peningkatan ekonomi dan bisnis.
Standar Dunia

Dalam salah satu wawancara khususnya dengan majalah IT Times, Yim Chu-hwan, Pimpinan Electronics and Telecommunications Research Institute (ETRI), Korea Selatan, menyatakan bahwa bisnis DMB dan WiBro diperkirakan akan meningkatkan pendapatan domestik kotor per kapita (GDP) hingga mencapai $20,000. Dan, Yim Chu-hwan, juga menambahkan bahwa bisnis DMB akan menjadi isu yang paling panas tahun 2005 ini, tak hanya di Korea, melainkan juga di seluruh dunia.

Korea sendiri, terutama dalam menyikapi pengembangan DMB, yang teknologinya telah dikembangkan di Korea sejak tahun 2002 lalu, tak hanya melihatnya dalam konteks kepemimpinan pengembangan teknologi, melainkan juga mendorong agar DMB dan WiBro dapat digunakan sebagai standar internasional. Jika hal itu terwujud, dan untuk itulah ETRI mendorong pemerintah Korea untuk melobi baik negara-negara maju maupun sedang berkembang guna memuluskan diadopsinya, khususnya standar DMB, secara internasional, maka keduanya akan semakin mendorong peningkatan industri dan bisnis ICT Korea Selatan.

Saat ini, Eropa, telah mengadopsi standar tersebut. Namun, Korea tak ingin standarnya hanya diakui oleh negara-negara Eropa saja, melainkan menjadi standar dunia. Karena, dengan semakin luasnya penerimaan dunia terhadap standar dan teknologi DMB Korea ini, maka akan semakin terbuka luas pula penerimaan ponsel-ponsel berbasis DMB, dan juga berbagai produk dan layanan terkait lainnya di pasaran dunia.

DMB merupakan sebuah perangkat penerima siaran bergerak (mobile broadcasting receiver) yang memungkinkan pengguna ponsel berkemampuan DMB menonton dan mendengar acara siaran TV di ponsel mereka, baik sedang dalam keadaan diam maupun terutama bergerak atau bepergian, misalnya dalam kendaraan yang melaju hingga 150 km/jam. Sedang WiBro, yang diharapkan akan mulai tersedia layanannya tahun 2006, adalah layanan Internet portabel, yang juga dapat diakses melalui ponsel. Dengan begitu, pengguna ponsel berkemampuan DMB dapat menonton video atau siaran TV sambil tetap bertelepon melalui ponsel yang sama.

Dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna ponsel di seluruh dunia, Yim melihat bahwa begitu siaran TV tersedia dalam format mobile di ponsel, diperkirakan pasar akan meledak. Karena, layanan ini diperkirakan memang sudah banyak dinanti-nanti oleh para pengguna ponsel di seluruh dunia. Apalagi, saat ini para pengguna ponsel dunia cukup besar, yakni pengguna GSM mencapai 1,25 miliar, CDMA 202 juta, dan TDMA 120 juta.

Di Korea sendiri, para pelanggannya diperkirakan akan meningkat secara cepat, yakni dari hanya sekitar 400 ribu tahun 2005 akan meledak hingga 10 juta pengguna tahun 2010 mendatang. Selama ini, teknologi DMB memang telah dikembangkan, namun lebih banyak tertuju pada penggunaan untuk keperluan audio dan video saja, sedang siaran TV merupakan layanan yang sama sekali baru. Layanan siaran TV ini dapat dilakukan dengan menggunakan satelit maupun terrestrial, sehingga dalam konteks jaringan dikenal jaringan berbasis satelit (S-DMB) maupun terrestrial (T-DMB). (Untuk ulasan teknologinya, baca artikel: ”Digital Multimedia Broadcasting: Menghadirkan Siaran TV di Ponsel.”)
Dukungan Pemerintah

Yang menarik, dalam pengembangan DMB ini, Korea mengambil sejumlah momentum kegiatan internasional sebagai upayanya mendorong peningkatan pasarnya di dunia. Pertama , Korea akan memanfaatkan pasar Eropa, yang telah mengadopsi standar DMB-nya, melalui ajang FIFA Germany World Cup 2006, yang diperkirakan akan mempengaruhi negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Italia dan Swiss. Sedang di kawasan Asia, Korea mengambil momentum ajang Beijing Summer Olympics , Beijing, 2008 untuk juga mempengaruhi pasar Asia, termasuk Indonesia.

Jika hal itu berhasil dilakukan dengan baik, diperkirakan tak kurang pasar DMB akan berkembang 137 persen per tahunnya, sehingga pada 2012 pasarnya dapat mencapai $3 miliar. Beberapa praktisi malah memperkirakan bahwa nilai pasar perangkat atau ponsel DMB dapat mencapai $5 miliar pada 2007. Perkembangan ini diraih melalui peningkatan penjualan ponsel, pengembangan solusi aplikasi, dan juga konten.

Perkembangan yang dicapai Korea, baik saat ini maupun yang diperkirakan akan diperoleh lebih besar lagi di masa datang, tak terlepas dari dukungan kuat pemerintah Korea Selatan sendiri yang memang sangat antusias. Dukungan itu langsung didapat melalui kerja keras Kementerian Informasi dan Komunikasi ( Ministry of Information and Communication , MIC) dan Lembaga Riset Telekomunikasi dan Elektronik ( Electronics and Telecommunications Research Institute , ETRI), yang memang sangat mendukung perkembangan itu. Terutama, karena hal tersebut akan semakin meningkatkan industri dan bisnis di dalam negeri, dan sudah tentu pula ekonomi dan pendapatan masyarakat, kreativitas, serta profesionalisme pekerja berbasis pengetahuan ( knowledge worker ), khususnya di lingkungan industri ICT.

Selain itu, dengan dukungan yang kuat dari pemerintah ini pula kalangan industri, terutama para pemanufaktur ponsel berkemampuan DMB, juga dinilai sangat positif. Dalam konteks ini, ETRI bertanggung jawab dalam menyediakan fasilitas transmisi dan teknologi, sedang perusahaan-perusahaan penyiaran, seperti KBS dan MBC, mengajukan bisnis model secara detil. Sedangkan kalangan pemanufaktur perangkat terminalnya (ponsel), termasuk utamanya Samsung dan LG, bertugas menyiapkan ponsel berkemampuan DMB, sehingga mampu menerima layanan siaran TV bergerak.
Patungan Satelit

Di sisi lain, SK Telecom, operator telepon seluler terbesar Korea, berhasil membangun satelit DMB pertama dunia yang memungkinkan disediakannya layanan DMB di ponsel, PDA atau perangkat portabel untuk kendaraan ( in-car devices ), yang secara esensial mengonvergensikan teknologi telekomunikasi dan penyiaran. Satelit DMB bernama ‘Han Byul’ ini dikerjakan di Space Systems Loral, yang berada di Palo Alto, California, Amerika dan mampu menyediakan 25 kanal audio untuk layanan musik, berita dan pendidikan, dan 3 kanal untuk berbagai layanan informasi.

Satelit DMB ini merupakan hasil patungan antara SK Telecom , Korea Selatan, dan Mobile Broadcasting Corporation (MBCO), Jepang. Peluncuran satelit ini bukan saja menjadi perhatian para operator satelit, melainkan juga perusahaan-perusahaan TI mancanegara, karena ini merupakan satelit DMB pertama dunia. Peluncuran satelit ini bukan saja menjadi unggulan, melainkan juga semakin memuluskan kepemimpinan, baik Korea maupun Jepang, dalam pasar DMB global.

Yang menarik, patungan antara kedua perusahaan telekomunikasi besar ini, beban biaya pembelian satelit DMB tersebut didasarkan pada cakupan dan jumlah stasiun bumi yang akan mereka operasikan. Sehingga SK Telecom kebagian mendanai 34,66% atau sekitar 94,5 miliar won Korea Selatan ($1=1003,88 won) dari total biaya sebesar 272,0 miliar won. Sedang MBCO mendanai 65,34% atau sebesar 177,5 miliar won. Biaya itu mencakup pembelian, peluncuran, pengendalian, asuransi dan lain sebagainya. Bagi SK Telecom, patungan pembelian satelit ini setidaknya mampu menghemat biaya sekitar 150 miliar won dibandingkan kalau mengoperasikannya sendiri.
Momentum bagi CDMA

Nantinya, satelit DMB ini akan dioperasikan oleh TU Media, perusahaan yang 30 persen sahamnya dimiliki SK Telecom. Perusahaan ini akan menyediakan berbagai layanan satelit, antara lain menyediakan 11 hingga 12 kanal televisi, 26 kanal audio, dan juga layanan komunikasi data bagi tiga operator seluler lainnya. Sedang Samsung dan LG telah mengembangkan ponsel-ponsel berkemampuan DMB untuk mendukung layanan baru itu. Sedang layanan DMB dari TU Media ini diperkirakan baru akan diluncurkan sekitar September tahun 2005 ini setelah izinnya diperoleh dari komisi penyiaran Korea .

Dengan tingkat pengguna ponsel yang telah mencapai 75% dari total populasi Korea Selatan, para analis menilai bahwa layanan DMB akan mampu meraih 6 juta pelanggan dalam beberapa tahun dan 8 juta pelanggan hingga tahhun 2010. Hasil kajian Electronics and Telecommunications Institute , memperkirakan bahwa layanan DMB akan menciptakan pendapatan sekitar 14 triliun won dalam enam tahun ke depan, terutama dari layanan, perangkat dan konten.

engan berkembangnya layanan DMB, maka ini seklaigus menjadi momentum bagi perkembangan teknologi komunikasi CDMA – karena DMB berbasis teknologi komunikasi CDMA. Bagi Korea sendiri, CDMA akan menjadi mesin pertumbuhan baru dengan tingkat kebutuhan ponsel CDMA tak kurang dari 14 juta buah per tahun, yang berarti akan menciptakan pasar domestik untuk perangkat nirkabel hingga 1,3 triliun won pada tahun 2010 mendatang. Sementara, ponsel DMB ini dipekirakan akan dijual di pasaran dengan harga antara 700.000 won hingga 800.000 (7-8 juta rupiah).

© 2003 – 2005 eBizzAsia. All rights reserved.
http://www.ebizzasia.com/0326-2005/insights,0326,02.htm, Google, 01/11/2007, 20.13

Jurnalistik Part5

Kontroversi ‘Jalan-Jalan’ Wartawan
09 Jul 2007
Kontroversi ”Jalan-Jalan” Wartawan
Monday, 09 July 2007

Oleh Budisantoso Budiman

Jurnalis, Ketua Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen/AJI Kota Bandarlampung

PROGRAM ”jalan-jalan” (travelling) ke Malaysia dan Singapura serta paket ibadah umrah ke Makkah yang ditawarkan Pemprov Lampung kepada wartawan (jurnalis) memicu kontroversi berkaitan indikasi pelanggaran prinsip kaidah dan etika jurnalistik, serta patut tidaknya wartawan menerima ’’hadiah” yang boleh jadi dibiayai uang rakyat tersebut.

Perdebatan atas kontroversi tersebut sebenarnya tidaklah penting kalau semua pihak mengkajinya berdasarkan hati nurani serta sikap rasional-empatik dan tidak mengedepankan arogansi. Dasar penyikapannya pun cukup terang. Bukankah wartawan dan institusi pers dengan pemprov maupun gubernur Lampung dalam porsi kelembagaan adalah institusi berbeda? Keduanya memiliki fungsi, peran, dan tanggung jawab berlainan.

Pemprov dengan gubernur Lampung sebagai penanggung jawab utama berkewajiban melaksanakan pembangunan dan melayani publik dengan optimal tanpa kecuali. Tapi pers dan wartawan bertugas dan berperan menjadi ’’wakil masyarakat’’ yang mengemban amanat sebagai sarana pemberi informasi (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertaint), maupun menjalankan kritik dan kontrol sosial (to criticize) sebagai pengawas (watchdog) pelaksanaan pembangunan agar tidak menyeleweng dan benar-benar berarti bagi publik.

Idealnya, hubungan kemitraan atau pun kerja sama yang dibangun di antara institusi pemerintah daerah (pemda) dengan pers bukan yang dapat meminimalkan atau mengintervensi satu sama lain. Tapi saling ’’menghormati” fungsi dan peran masing-masing sehingga pemprov, gubernur, serta jajarannya bisa menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal, serta pers juga tetap dapat mengemban tugasnya dengan baik.

Karena itu, wajar kalau tawaran jalan-jalan ke luar negeri dan paket umrah bagi wartawan dikritisi. Apakah latarbelakangnya didorong tujuan ”negatif” sehingga memengaruhi independensi pers yang bebas dan merdeka di Lampung dalam menjalani tugasnya–termasuk membeberkan penyimpangan korupsi serta mengkritik pemerintah daerah?

Apalagi sebagian besar para wartawan di Lampung tidak bisa menutup mata bahwa hingga saat ini masih cukup besar dan banyak masalah pembangunan serta persoalan kemasyarakatan yang dihadapi warga Lampung dalam berbagai bidang. Seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, kesenian, serta lainnya.

Artinya pula, dengan anggaran daerah–asumsinya dana untuk jalan-jalan dan umrah diambilkan dari APBD Lampung–yang tersedot untuk para wartawan (diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah hingga mendekati satu miliar rupiah)–akan mengurangi pos anggaran untuk kepentingan masyarakat Lampung lain yang lebih memerlukannya.

Tidak perlu berandai-andai. Tapi sekiranya dana tersebut benar-benar digunakan langsung menyentuh kepentingan publik seperti beasiswa anak yang tidak mampu, berapa anak di Lampung yang bisa terbantu? Satu anak saja, kalau dia kebetulan berotak encer–tapi gagal bersekolah tinggi akibat keluarganya miskin–dibantu dengan dana tersebut, akan bisa terus belajar hingga lulus perguruan tinggi. Pastinya, ia akan siap mencurahkan ilmunya untuk daerahnya yang telah membiayai sekolahnya hingga rampung.

Berapa banyak pula balita terbantu mendapatkan susu—belakangan semakin mahal–dan tidak mengalami gizi buruk karena hanya bisa mengonsumsi air tajin atau teh manis saja.

Kalau pun telah diputuskan pemprov akan membantu ’’pemberdayaan dan peningkatan wawasan” bagi wartawan di daerahnya, program itu semestinya bukan prioritas mengingat efektivitas dan tanggung jawab itu seharusnya ada pada institusi media tempat wartawan bekerja atau organisasi pers tempat mereka bernaung. Lagipula, prioritasnya bukan ”jalan-jalan”, tapi membenahi manajemen, memperkuat dukungan finansial, serta penguatan kapasitas SDM pengelola pers di Lampung.

Pemda (yang baik) memang harus ikut bertanggung jawab terhadap kondisi pers di daerahnya. Namun hendaknya dapat mengerti aturan main serta etika di lingkungan pers. Sehingga, niat yang baik (lagi terpuji) itu justru tidak menjadi bumerang baik bagi pemda maupun wartawan, organisasi pers dan media massa, yang akan menjadi ”tumpul”, ”kurang independen”, dan ”tidak bebas serta merdeka” lagi menjalankan fungsi kritik dan kontrol sosial yang mesti diemban.

Apalagi, belakangan ini, menjadi keprihatinan kita semua, kian banyak orang mengaku dan berpenampilan layaknya wartawan profesional: menggunakan rompi, membawa kamera, catatan kecil (notes), alat tulis, topi, dan sejumlah atribut khusus kewartawanan lainnya termasuk ID Card sebagai wartawan.

Boleh jadi, akan lebih banyak lagi para wartawan dan oknum pekerja pers (wartawan betulan atau yang mengaku-aku wartawan), menjadi sasaran umpatan, sumpah serapah, caci maki dan kemarahan para kepala sekolah dan guru, camat dan kepala desa, maupun pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat, dan pihak lain yang telah dirugikan akibat ulahnya yang tidak terpuji serta jauh dari sikap seorang jurnalis profesional.

Namun apa lacur? Di antara mereka itu, sebenarnya tidak jelas latarbelakang dan kemampuannya dalam tulis-menulis (jurnalistik). Bahkan tidak sedikit hanya berbekal kartu wartawan (kartu pers), kendati media tempatnya bernaung tidak pernah diterbitkan atau sudah lama tidak terbit lagi. Bagi mereka, agaknya tidak lagi penting apakah bisa dan tetap menulis atau medianya masih terbit atau tidak.

Paling penting menyandang predikat wartawan karena dengan itu leluasa bergerak, berhubungan banyak orang, termasuk mendapatkan uang dan fasilitas yang diinginkan dengan berbagai cara serta mendapatkan ”hadiah” jalan-jalan ke luar negeri atau umrah dengan uang rakyat.

Padahal sesuai Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 (UU Pers), wartawan adalah mereka yang sehari-hari secara rutin melakukan aktivitas jurnalistik, yaitu mencari, mengumpulkan, menuliskan atau menyiarkan tulisan, gambar, foto, artikel/feature, maupun produk jurnalistik lainnya untuk dipublikasikan secara luas kepada masyarakat melalui media massa (cetak, elektronik, kantor berita, internet). Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik baik bersifat terikat maupun tidak terikat pada usaha pers (freelance/penulis/kolumnis/fotografer lepas).

Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik (mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi) baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik, maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Hari-hari belakangan ini, kiprah para wartawan atau jurnalis di Lampung kerap ditingkahi perilaku ”aneh-aneh” para pekerja pers itu, sehingga menjadi sorotan miring publik dan juga ikut diberitakan media massa di daerah ini.

Beberapa oknum wartawan itu, di antaranya terlibat tindak pidana atau kriminalitas cukup serius: memerkosa, memeras, kasus pencabulan atau pelecehan seks, serta kasus memalukan lainnya.

Padahal profesi wartawan memerlukan tanggung jawab dan kematangan dan ikut berperan membentuk pendapat umum, sehingga memiliki ”nama baik” dan bobot dalam masyarakat. Sebenarnya tidaklah bisa semua orang bisa menjadi wartawan.

Wartawan itu harus memahami profesinya dengan baik supaya dapat bertindak profesional dan tidak menimbulkan masalah akibat perilaku yang salah atau produk jurnalistik yang dihasilkan tidak benar dan menyesatkan.

Wartawan juga seharusnya bekerja dengan dasar pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang memadai, serta mematuhi kode etik. Standar kompetensi wartawan mestinya memiliki rasa ingin tahu tinggi, kematangan dan tanggung jawab, pengetahuan umum luas, kreatif, sabar dan persisten/teruji mental, berani, adil, jujur, dan berintegritas, berpikir independen, dan berusaha mencari jawaban kondisi yang dialami atau dilihat menyangkut kepentingan masyarakat.

Jadi, sebenarnya kontroversi program umrah dan jalan-jalan ke luar negeri yang ditawarkan pemprov/gubernur Lampung kepada para wartawan di sini, kalau mengacu kepada pemaparan gamblang di atas, semestinya tidak perlu lagi diperdebatkan benar atau tidak benar, dapat diikuti atau tidak.

Namun, semuanya berpulang kepada pilihan wartawan dan institusi pers bersangkutan, termasuk penilaian publik terhadap institusi pers dan para wartawan serta organisasi pers di sini: mana yang masih terjaga integritas, independensi, dan sikap profesionalnya, serta mana yang telah ”menggadaikannya” dengan mengatasnamakan pers serta predikat kewartawanan. Penulis yakin, publik akan cermat, cerdas, serta sangat bijaksana untuk menilai dan memilah-milahnya tanpa pretensi apa pun. (*)

http://radarlampung.co.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=8561&Itemid=31

(www.ajiindonesia.org)
http://www.ajiindonesia.org/index.php?fa=article.read&id=MjI4, Google, 01/11/2007, 20.00

Jurnalistik Part4

Jurnalisme Komik? Nov 19, ’06 3:44 PM
for everyone

Kopian (edited) dari posting di milis Komik Indonesia, Msg #6217 – tanggapan dari Tita utk diskusi yg di antaranya menyebutkan bahwa comics-diary-nya termasuk jurnalisme (dalam bentuk) komik.

Dear rekan2 se-milis,

Berhubung disebut2 di posting sebelumnya, saya jadi tergerak utk ikut mencari tahu apa sebenarnya comic journalism itu (apa lagi modalnya kalau bukan Google :D ). Dari beberapa artikel yg saya temui, kurang lebih bisa saya tarik beberapa point berikut ini:

1. SCOPE: Sejak pertengahan 1980an, komik telah dimanfaatkan sebagai media utk menyampaikan kisah2 non-fiksi yg bertemakan berbagai peristiwa mutakhir. Tema yg diangkat pun sangat beragam: resensi musik dan wawancara dengan anggota band, reportase ttg pengadilan penjahat perang, lapiran ttg hukuman mati, penggambaran sebuah festival, pengalaman keikut-sertaan dalam lari marathon, dsb.

2. STRENGTH: Kekuatan utama comic journalism adalah pada kemampuannya menampilkan hal2 realistik dan hal2 simbolik secara silih berganti. Di sini tentu saja si reporter menyampaikan kisahnya dari sudut pandangnya – dengan demikian memosisikan para pembaca ke dalam situasi yg dilaporkannya tsb. Tidak jarang ia memasukkan pandangan moralnya dalam situasi tsb, karena keterlibatannya yg sangat mendalam pada peristiwa yg dikisahkannya.
Kebebasan dalam menempatkan kata2 dan gambar memungkinkan penuturan peristiwa baik secara subyektif maupun obyektif. Penekanan antara verbal dan visual dapat digunakan utk menitik-beratkan keberpihakan, kerancuan, dan ironi, yang jarang ditampilkan (bahkan sengaja diabaikan) oleh media lain.

3. PERBANDINGAN DENGAN MEDIA (JURNALISTIK) LAIN: Comic-journalists menghadapi kesulitan yg serupa dengan mereka yg bekerja di media lain: pertanyaan mengenai keberpihakan, sumber2 (tak) terpercaya, halangan bahasa dan dilema etika.
Mirip dengan photo-journalism dan video atau film, comic-journalism juga memakai images (gambar2) sebagai penyampaian beritanya. Perbedaannya adalah, gambar2 pada komik tidak berdiri sendiri, tapi seperti ingin menyampaikan keseluruhan kisah sekaligus dalam satu momentum, dan komik memungkinkan tampilnya keseluruhan seri secara bersamaan.

Contoh2 komik yg dikategorikan sebagai comic journalism, yg paling terkenal adalah karya2 Joe Sacco ttg Palestina dan Art Spiegelman (In the Shadow of No Towers – meskipun banyak juga perbedaan pendapat soal ini). Yang terbaru adalah album berjudul Cargo: Comic Journalism Israel-Germany (terbit Oktober 2005). Cargo merupakan kumpulan karya hasil sebuah tim yg terdiri dari 3 komikus Jerman dan 3 komikus Israel, yang, dalam rangka proyek ini, masing2 menuangkan pengalamannya selama tinggal di negara ‘lawan’nya tsb (buku ini merupakan salah satu proyek utk memperingati 40 th hubungan diplomatik antara Israel dan Jerman).
Salah seorang komikus dalam tim tsb berujar, “Kami tahu bahwa kami akan membuat sebuah gaya jurnalisme, tapi pertanyaannya adalah ke mana masing2 akan membawanya. Seperti halnya ada banyak macam wartawan – reporter, analis, publicist, kolumnis, dsb – masing2 dari kami akan membuat komiknya dalam arah yg berbeda2″. Bentuk jurnalisme semacam ini tidak bermaksud obyektif, dan memang disebut sebagai jalan utk menuangkan lebih banyak perasaan dan emosi terhadap suatu tema, dibandingkan jurnalisme foto atau tulisan.

Back to my own works.
Gambar2 yg saya buat sebagian besar bersifat liputan atau laporan kejadian. Seperti yg disebut Mas Rieza, saya telah membuat beberapa graphic review (= resensi visual?) utk konser atau pertunjukan yg saya tonton. misalkan:
- konser Duran Duran: http://esduren.multiply.com/photos/album/26
- konser Madness: http://esduren.multiply.com/photos/album/34
- konser Strips in Stereo: http://esduren.multiply.com/photos/album/40
- film MirrorMask: http://esduren.multiply.com/photos/album/41

Sebagian besar gambar saya juga merupakan catatan perjalanan, misalkan:
- Barcelona (Spanyol): http://esduren.multiply.com/photos/album/39
- Strasbourg & around (Perancis): http://esduren.multiply.com/photos/album/23
- Brugge (Belgia): http://esduren.multiply.com/photos/album/3
- Finland: http://esduren.multiply.com/photos/album/2

Sisanya, liputan2 kecil dan sentilan hidup sehari2. Comic journalism kah? Dipertimbangkan dari point2 di atas, mungkin termasuk. Seperti kata komikus di tim Cargo tsb, jurnalisme tampil dalam berbagai bentuk: sehingga bila ingin dimasukkan ke comic journalism, gambar2 saya mungkin baru sampai tahap “kolom” atau “yang ringan dan yang lucu” – bukan “berita utama” atau “liputan khusus”.

Berikut ini beberapa link yg menarik utk dibaca, berkenaan dengan topik comic journalism:
1. The Case for Comics Journalism: Artist-reporters leap tall conventions in a single bound (by Kristian Williams)
–> Membahas comic journalism secara cukup menyeluruh, dilengkapi dengan contoh2

http://www.cjr.org/issues/2005/2/ideas-essay-williams.asp

2. Adam Rosenblatt on Comics Journalism in CJR – posted March 16, 2005
–> Tanggapan utk artikel di atas (No. 1), yg menyayangkan kurangnya hal penting dalam artikel tsb: bahwa artikel tsb tidak benar2 mendefinisikan APA yg membuat sebuah komik dapat disebut sebagai “jurnalisme”

http://www.comicsreporter.com/index.php/briefings/letters/1222/

3. Comic book journalism: Israeli, German artists team up to create a comic book illustrating their personal perceptions of Tel Aviv and Berlin (by Ashley Perry, EJP)
–> Mengenai proyek “Cargo”

http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-3193303,00.html

4. Cargo: Comic Journalism Israel-Germany – posted February 24, 2006
–> Resensi “Cargo”, disertai beberapa gambar

http://www.comicsreporter.com/index.php/briefings/eurocomics/4339/

Salam,

Tita
Mei 2006
Tags: diskusi, comic journalism
Prev: Why Comic? Why Manga?
Next: DISKUSI & ARTIST TALK EKSPOSISI KOMIK DI: Y
http://komik.multiply.com/journal/item/10/Jurnalisme_Komik, Google, 01/11/2007, 19.49

Public Relation part4

Public Relations ( I )

Bagi sebagian orang, Public Relations Officer, Public Relations Specialist–yang biasa dikenal dengan nama PR, cenderung disamakan dengan profesi Hubungan Masyarakat (Humas). Well, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru, walaupun tidak juga tepat sekali. Hal ini tergantung dari sudut pandang dan opini publik yang sudah terlanjur menancap di masyarakat, bahwa humas pada dasarnya “hanya” bertindak sebagai “tukang siar”, yang jalinan kerjanya biasanya erat berkaitan dengan media massa. PR, pada kenyataannya, lingkup kerjanya tidak hanya terbatas pada menjalin hubungan dengan media massa.

Berikut kami sajikan deskripsi kerja seorang PR, mudah-mudahan dapat memperbaiki anggapan-anggapan kurang tepat mengenai profesi yang sebenarnya sangat kompleks ini. Sengaja kami bagi artikel ini dalam 2 edisi, karena sesungguhnya cukup banyak seluk-beluk dunia kerja seorang PR yang cukup pantas untuk dicermati.

“Public Relations itu sangat luas artinya,” ujar sumber CyberJob, Siska Widyawati, yang pernah mengecap pengalaman 5 tahun sebagai seorang PR di sebuah agensi periklanan besar di Jakarta Pusat. Di sana (Amerika-Red), hampir di setiap perusahaan memiliki seorang PR, karena mereka sudah mengerti betul seluk beluk tugas seorang PR. Tapi di Indonesia, PR biasanya hanya dimaknai sebagai tenaga marketing, atau sebagai juru siar.

Tugas-tugas inti seorang PR

“Public relations bukan hanya seorang juru siar,” ujar Siska. Berikut Siska memaparkan beberapa job description PR yang disebutnya sebagai “nature of work”.

1. Reputasi, keberuntungan, bahkan eksistensi lanjutan dari sebuah perusahaan, dapat bergantung dari keberhasilan PR menafsirkan target publik untuk mendukung tujuan dan kebijakan dari perusahaan yang bersangkutan. Seorang PR specialiast menyajikan hal tersebut sebagaimana halnya seorang penasihat dalam bidang bisnis, asosiasi non-profit, universitas, rumah sakit dan organisasi lain. Selain itu, mereka juga membangun dan memelihara hubungan positif dengan publik.

2. Seorang PR mengurus fungsi-fungsi organisasi, seperti menghadapi media, komunitas dan konsumen. Dalam hubungannya dengan pemerintah, mereka mengurus kampanye politik, representasi para interest-group, sebagai conflict-mediation, atau mengurus hubungan antara perusahaan tempat mereka bekerja dengan para investor. Seorang PR tidak hanya berfungsi untuk “mengatakan sejarah organisasi”, tapi mereka juga dituntut untuk mengerti tingkah-laku dan memperhatikan konsumen, karyawan dan kelompok lain yang juga merupakan bagian dari deskripsi kerjanya. Untuk meningkatkan komunikasi, seorang PR juga membangun dan memelihara hubungan yang koperatif dengan wakil-wakil komunitas, konsumen, karyawan dan public interest group, juga dengan perwalian dari media cetak dan broadcast.

3. Seorang PR menyampaikan informasi pada publik, interest group, pemegang saham, mengenai kebijakan, aktivitas dan prestasi dari sebuah organisasi. Tugas tersebut juga berhubungan dengan mengupayakan pihak manajemen untuk supaya tetap sadar terhadap tingkah laku publik dan menaruh perhatian terhadap grup-grup dan organisasi, dengan siapa mereka biasa berhubungan.

4. Seorang PR menyiapkan pers rilis dan menghubungi orang-orang di media, yang sekiranya dapat menerbitkan atau menyiarkan material mereka. Banyak laporan khusus di radio atau televisi, berita di koran dan artikel di majalah, bermula dari meja seorang PR.

5. Seorang PR juga mengatur dan mengumpulkan program-program untuk memelihara dan mempertahankan kontak antara perwalian organisasi dan publik. Mereka mengatur speaking engagement, pidato untuk kepentingan sebuah perusahaan, membuat film, slide, atau presentasi visual lain dalam meeting dan merencanakan konvensi. Sebagai tambahan, mereka juga bertanggung jawab menyiapkan annual reports dan menulis proposal untuk proyek-proyek yang beragam.

6. Dalam pemerintahan, seorang PR–yang kemungkinan akan disebut sebagai “sekretaris pers”, “information officer”, “public affair specialist” atau “communications specialist”, bertugas menginformasikan pada publik mengenai aktivitas yang dilakukan agen-agen pemerintah dan pegawai-pegawai resminya.

7. PR yang berurusan dengan publisitas untuk individual, atau mereka yang menangani public relations untuk organisasi kecil, kemungkinan akan berurusan dengan semua aspek pekerjaan. Mereka akan menghubungi orang-orang, merencanakan dan melakukan penelitian dan menyiapkan material untuk distribusi. Mereka juga mengurusi pekerjaan advertising atau sales promotion untuk mendukung kegiatan marketing.

sumber : cbn.net.id, Google, 01/11/2007, 10:09

Public Relation part3

Ahli PR (Public Relation) dalam Kampanye Pemilu 2002

Dengan tim “Kampa” yang dipimpin secara profesional itu pada 1998 SPD berhasil memenangkan pemilu dan membuat standar kampanye baru di Jerman. Sudah sejak lama ahli PR mengorganisir pengaruh dari kompetensi dan program.

Sudah pasti kalimat yang akan dikatakan pihak yang kalah dalam pemilu di depan kamera TV pada malam tanggal 22 September nanti adalah: “Kami tidak cukup berhasil menyampaikan kepada pemilih visi program kami!” Orang juga tahu media mana yang dianggap Gerhard Schröder menentukan dalam kampanye, apalagi kalau bukan “Bild, BamS, Glotze!” (Yellow Press dan televisi). Namun strategi mana yang paling menjanjikan keberhasilan bagi pembuat kampanye? Perencanaan ahli-ahli kreatif yang terlibat dalam PR dan iklan dirahasiakan. Hal ini tertuang dalam kontrak kerja mereka. Masalah kesepakatan honor pun dirahasiakan. Desas-desusnya beberapa bos agen periklanan baru dapat menghitung bayaran mereka dengan kalkulator pada malam pemilihan – perlu dicatat, dalam standar internasional komunikasi politik di Jerman dihargai sangat rendah. Toh setidaknya lambat laun terlihat jelas akan ke arah mana perkembangan kampanye di fase-fase hangatnya: perebutan pemilih pindahan (artinya pemilih yang sebelumnya secara trdisional selalu memilih satu parpol tertentu, namun kemudian melepaskan diri dari ikatan tradisi itu karena tidak yakin dengan visi dan misi partainya) yang semakin banyak jumlahnya, perebutan untuk merekrut pemilih di daerah yang jumlahnya sulit diperhitungkan. Dalam menyusun kampanye ini para ahli sepakat untuk tidak memfokuskan pada program partai, tapi pada duel kanselir Gerhard Schröder melawan penantangnya Stoiber. Duel mereka akan difokuskan pada kompetensi politik ekonomi dan lapangan kerja. Tapi sejak Schröder harus pula menguras tenaga untuk mengurus masalah skandal sumbangan dan korupsi dalam tubuh partainya dan bangkrutnya perusahaan raksasa Kirch yang ‘dimanja’ pemerintah negara bagian Bavaria mulai mengganggu citra Stoiber sebagai politisi berbakat, maka sangat mungkin sekali pihak yang dikalahkan dalam pemilu nanti akan mengungkapkan alasan lain atas kegagalan mereka. Mungkin bunyi alasan itu adalah: “lawan politik kami telah melakukan kampanye yang tidak fair!”

“Tim Kampa 02” – Apakah Schröder memang layak?
Tim Kampa yang kali ini disebut “Kampa 02” diharapkan mampu membantu partai yang dipimpin Schröder memenangkan perebutan jabatan kanselir. Secara resmi pihak SPD menyebut biaya sebesar 25 juta Euro untuk kampanye. Seperti halnya pada 1998, SPD kembali melibatkan KNSK di Hamburg sebagai agen periklanan yang telah mengorganisir sekitar 30 kampanye untuk SPD. Sementara untuk kampanye On-line diserahkan pada jasa perusahaan A&Bface2net. Pengkoordinasian kegiatan dua agensi ini dilakukan di pusat kampanye di jalan Oranienburg di tengah kota Berlin. Kerjasama antara sekjen SPD Müntefering, ketua harian DPP Matthias Machnig dan bos KNSK Detmar Karpinski sangat baik. “Kami sudah siap!” begitulah salah satu klaim sukses dari bos KNSK. “Kami tidak ingin membuat semua hal lain, tapi akan membuat banyak hal lebih baik” adalah slogan lain yang dulu mengena di hati banyak pemilih yang selanjutnya membuat Kohl setelah 16 tahun harus menyerahkan tahtanya pada SPD. Dalam kampanye pemilu 1998 itu keinginan untuk mengganti pemerintahan memang sudah terasa. Dan sekarang dalam tim kampa 02 orang tahu belaka faktor yang sangat menentukan adalah faktor Schröder. Karena dalam semua jajak pendapat popularitas Schröder, meski adanya tren negatif koalisi merah-hijau (SPD dan Die Grünen), tetap berada di atas Stoiber. Ini adalah faktor yang akan dimanfaatkan betul oleh SPD. Selain itu, menurut staf Kampa 02 Malte Ristau citra Schröder yang diharapkan akan membekas dalam benak pemilih potensial SPD, tidak berubah. Prestasi Schröder selama masa jabatan 1998-2002 diungkapkan dalam satu kalimat pendek: “Mehr Licht als Schatten” (cukup berhasil). Menurut analisis tim Kampa SPD tidak mungkin akan mengalami hal yang mengancam posisinya setelah Schröder membuat kesalahan dalam masa jabatannya yang lalu, yakni ketika ia menargetkan pengurangan jumlah pengangguran menjadi 3,5 juta sebagai barometer keberhasilannya. Selain itu politik “ruhige Hand” (kebijakan penanganan masalah pengangguran dengan cara yang tenang, tidak terburu-buru dan tidak terlalu banyak aksi; kebijakan ini tidak berhasil) juga ditinggalkan oleh Schröder berkat desakan dari penasehatnya. Sementara upaya rivalnya, Stoiber, untuk merebut suara dari kelompok pemilih “tengah baru” (pemilih yang tidak terikat satu parpol tertentu) dengan cara kurang fair dihadapi staf humas Kampa 02 dengan pernyataan sinis: ”Edmund, cara seperti itu sih sudah basi”, begitulah bunyi salah satu plakat setelah pihak CDU/CSU menjelaskan masalah pencalonan kanselir dari partai tersebut. “Pada kampanye 1998 kami sudah melanggar banyak ketentuan iklan kampanye dan membuat suatu kampanye yang disesuaikan dengan industri pasar. Kerjasama kami sangat profesional dan menyenangkan”, demikian dijelaskan bos KNSK Karpinski menyangkut motivasi keterlibatan agennya untuk kedua kalinya dalam pembuatan kampanye SPD. Perusahaan periklanan KNSK yang merupakan bagian dari jaringan BBDO memiliki klien seperti Daimler Chrysler atau Bertelsmann-Tochter Gruner & Jahr. Salah satu dari kinerja PRnya dalam kampanye ini adalah iklan yang terpampang pada surat kabar “Bild” di mana terdapat hanya satu bagian kosong – yang harusnya berisi gambar Stoiber – dengan teks yang berbunyi: “Akhirnya kandidat CDU/CSU muncul juga. Sayang gambarnya tidak dimuat, karena terlalu jauh ke kanan.” (Stoiber dianggap konservatif dan berhaluan kanan).

Arena 02 – Tim pemenangan pemilu Stoiber
Setelah Edmund Stoiber berhasil memenangkan perebutan pencalonan kandidat utama melawan ketua umum CDU Angela Merkel, perdana menteri negara bagian Bavaria ini muncul sebagai pembawa harapan baru bagi mayoritas CDU/CSU. Namun salah satu dari upaya kampanye Stoiber memperlihatkan kekurangmatangannya. Yakni ketika ia memperkenalkan Franz-Josef Jung sebagai manajer kampanye yang sebelum kampanye dimulai harus sudah menyerah dulu karena keterlibatannya dalam skandal sumbangan partai di Hessen. “Kekalahan pertama Stoiber”, demikian komentar lawannya. Kemudian Michael Spreng dipilih sebagai manajer kampanye baru, seorang tokoh media yang dari 1989 hingga 2000 menjabat kepala redaksi “Bild am Sonntag”. Dengan demikian setidaknya telah ditemukan seorang manajer yang pengalamannya dalam dunia media tidak perlu diragukan lagi. Ini penting bagi Stoiber mengingat kekurangmantapannya dalam penampilan di TV. Padahal bagian ini merupakan kelebihan Schröder. “Saya harus menghindari gambar karikatur”, demikian jelas Spreng tentang fungsinya dalam tim Arena. Meski ada faktor Spreng, tetap saja beberapa penampilan Stoiber di TV tidak berhasil. Terutama sekali penampilannya dalam Talklady Christiansen di mana penonton melihat dengan jelas seorang Stoiber, si penantang, tampil kurang yakin, terbata-bata dan kalimat-kalimatnya terlalu rumit. “Sangat menenangkan!” demikian komentar sinis Franz Müntefering. Orang dalam CDU/CSU sadar bahwa membuat penampilan Stoiber di media bisa berpengaruh positif terhadap partai mereka lebih sulit daripada yang diyakini para tokoh optimis CDU setelah pencalonan resmi Stoiber.

Cara-cara baru di CDU/CSU
Sebenarnya jauh hari sebelum dimulainya kampanye yang sedang berlangsung sekarang ini telah ada perubahan cara berpikir di CDU/CSU dalam hal iklan, PR dan pimpinan kampanye. Hal ini didorong oleh keberhasilan SPD. Di era Kohl para politisi CDU memilih agensi Mannstein dari Solingen yang merupakan perusahaan periklanan sedang. Hasilnya adalah komunikasi politik yang reputasinya hanya untuk tingkat daerah. Dengan kata lain, kampanye CDU tidak berhasil. Partai yang di bawah pimpinan Kohl selalu dimanjakan dengan keberhasilan ini mencoba untuk menyerang strategi SPD yang diperkaya dengan teknik-teknik kampanye ala Amerika dan Inggris itu. Mereka menganggap strategi itu tak lebih dari kerja media semata tanpa kandungan isi. Yang ditampilkan hanyalah retorika, bukan visi dan misi serta platform yang jelas dan kredibel. Memang setelah kekalahan telak pada pemilu 1998 manajer kampanye seperti mantan sekjen Peter Hintze tidak mungkin lagi dilibatkan. Akan tetapi, kritik terhadap Gerhard Schröder, yakni politisi yang hanya beraksi sebagai “show-kanselir” , masih tetap menjadi repertoir kesukaan CDU/CSU dalam persaingan politiknya dengan SPD. Misalnya, untuk mengingatkan khalayak pada janji Schröder CDU membuat plakat raksasa di mana terpampang jumlah pengangguran terkini. Apakah keputusan CDU memilih dua agen periklanan akan berhasil atau tidak, baru akan diketahui setelah penghitungan kotak suara nanti. Memang tim kampanye CDU secara keseluruhan di sebut “Tim Arena 02” dan dipusatkan di gedung Konrad Adenauer di Berlin. Tapi yang bertanggung jawab terhadap kampanye partai ini sebenarnya adalah McCann-Erickson, cabang Jerman. Jaringan yang ada di seluruh dunia yang didirikan 1911 ini memiliki klien seperti Coca-Cola, Siemens atau Opel. Bos McCann-Erickson cabang Jerman Helmut Sendlmeier tidak memberikan keterangan sedikitpun tentang strategi yang direncanakan CDU. Ia hanya memberitahukan bahwa CDU telah memilih staf-staf kreatif perusahaannya untuk kampanye ini di antara 100 perusahaan iklan lain. Namun CSU sendiri masih menambah agen periklanan Serviceplan yang berkedudukan di Munich yang selanjutnya bertanggung jawab pada penampilan Stoiber di Bavaria. Tidak ada keterangan mengapa hal ini dilakukan CSU. Namun yang jelas – setidaknya ini diharapkan lawan CDU/CSU – sudah terlihat cikal bakal masalah perbedaan pendapat, tepatnya masalah keseimbangan antara aksi pihak utara dan selatan. Bahwa CDU/CSU masih sangat membutuhkan konsultasi dalam hal promosi/iklan dan PR, itu sudah dibuktikan oleh sekjen CDU Lauren Meyer tahun lalu. Ketika itu ia ingin menarik simpati dengan sebuah plakat di mana Schröder ditunjukkan sebagai obyek penyelidikan dalam data penjahat. Plakat ini kemudian harus dibuang ke kotak sampah setelah publik geram melihatnya.

Menampilkan Stoiber apa adanya
Adanya sentimen utara dan selatan membuat pihak CDU/CSU harus berpikir keras untuk memposisikan Stoiber. Stoiber yang telah dicalonkan sebagai kanselir diharapkan meraih suara dari pemilih tengah yang jumlahnya akan sangat menentukan hasil keseluruhan perolehan suara. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Stoiber dapat melepaskan posisinya yang selama ini ditandai dengan citra konservatif kanannya itu? Hal apa yang akan membuat para pengikut CSU yang cenderung tradisional itu kehilangan kepercayaan mereka? Ini adalah tanggung jawab Spreng sebagai pendisain kampanye. Spreng sendiri mengatakan:”Yang dicari adalah sesuatu yang asli dan otentik, bukan yang direkayasa!” Artinya, Stoiber akan pula dipresentasikan sebagai mana adanya, sebagai pembawa harapan yang ‘otentik’. Tapi hal yang mencolok adalah tidak disinggungnya keberhasilan kebijakan ekonomi Stoiber di Bavaria. Mungkin ini sengaja dilakukan para ahli strategi CDU/CSU mengingat adanya sentimen budaya utara dan selatan. Artinya, bila negara bagian Bavaria dengan ciri khasnya terlalu ditonjolkan, kampanye CDU tidak akan berhasil di seluruh Jerman dan hal itu malah akan membuat pemilih di daerah timur akan mundur. Hasil pertama kampanye CDU/CSU ditunjukkan dengan menempelkan sosok Stoiber dalam plakat di seluruh ibu kota negara bagian. Dalam plakat itu Stoiber dipresentasikan sebagai politisi yang “kantig1, echt, erfolgreich” (tidak luwes/tidak tedeng aling, asli, sukses). Ini berarti, kampanye iklan CDU harus menampilkan Stoiber sebagai ‘kebalikan’ dari model Gerhard Schröder yang terkesan sebagai “tokoh yang terlalu dipoles” (baca: tidak original), demikian keterangan Michael Spreng pada peluncuran plakat tersebut di Berlin awal April lalu. Dalam plakat itu terlihat dua tangan Stoiber, di samping dua gambar potret. Menurut Spreng gambar itu melambangkan “kekuatan si kandidat”. Memang CDU dan CSU setuju dengan dengan dua foto atau gambar potret dalam plakat tersebut, tapi tidak dengan grafiknya. Karena terlihat perbedaan plakat yang ditampilkan di Bavaria dan di wilayah Jerman lainnya. Sayangnya Spreng tidak memperhatikan hal ini. Ia anggap plakat itu, yang saat ini menghiasi gedung Konrad Adenauer, ‘telah diterima di Berlin’. Stoiber, menurut Spreng lagi, adalah figur yang setia, yang tidak menyembunyikan sikap aslinya, terbuka meski sebagai calon kanselir. Inilah yang menjadi faktor penting bagi pemili potensial CDU/CSU, melihat Stoiber sebagai sosok yang tidak ‘diperindah, dipoles’ seperti halnya Schröder. Memang Stoiber yang pernah menjadi manajer kampanye untuk Franz Josef Strauss itu sadar bahwa profilnya yang cenderung konservatif-kanan dapat menyebabkan kegagalannya. Namun, apabila memang nanti ia akan berada di bawah angin melawan Schröder, para perencana kampanye CDU/CSU masih punya topik populis yang bisa diangkat, yakni masalah imigrasi. “Jerman bukan negara tempat pendatang (imigrasi)” demikian kira-kira slogan yang akan dipakai tim Stoiber. Dan dengan demikian, pengesahan UU imigrasi dalam situasi yang cukup kontroversial yang telah ditandatangani presiden federal Johannes Rau akan menjadi tema kampanye.

Ahli PR (Public Relation) dalam kampanye pemilu 2002: Bagian 2

Partai-partai kecil juga menggunakan jasa para ahli PR. Tapi tentu saja anggaran mereka lebih kecil dibandingkan kedua partai besar (CDU/CSU & SPD). Sebuah kerugian atau peluang?

Apabila dua orang bertikai tidak otomatis berarti pihak ketiga merasa senang. Setidaknya rumus ini berlaku di dunia politik. FDP misalnya, mengkhawatirkan terbentuknya dua kubu sebagai akibat persaingan dua partai besar CDU/CSU dan SPD yang klimaknya akan terjadi pada duel-TV Schröder melawan Stoiber. Kekhawatiran tim jurkam FDP, 18/2002, adalah perhatian publik hanya akan tertuju pada duel itu sehingga partainya terlupakan. Ketua umum FDP Guido westerwelle yang dianggap sebagai penyelamat partai menyerahkan pengorganisasian kampanye partainya pada Fritz Goergen, seorang pakar media dari Nordrhein-Westfalen, yang juga punya peran penting dalam pergumulan dalam tubuh FDP menyangkut target perolehan 18% suara. Target ini sempat menjadi diskusi hangat dan dicibir oleh kalangan FDP sendiri. Goergen adalah pejuang yang mempunyai target besar. Dalam pemilihan parlemen daerah Nordrhein-Westfalen tahun 2000 ia juga memimpin tim Möllemann dan bersama dengan tokoh FDP yang menyukai olah raga terjung payung ini ia berhasil membawa FDP meraih perolehan suara 9,8% dan membuat FDP bisa kembali ke Landtag (setingkat DPRD Tingkat I) yang berkedudukan di Düsseldorf. Untuk jasa pemasangan iklan FDP memilih ECC-Adversiting yang berkedudukan di Berlin. Seperti agensi KNSK yang bekerja untuk SPD, EEC Advertising juga bagian dari jaringan BBDO. Goergen, sang manager kampanye, menganggap dirinya sebagai penghubung antara pusat FDP dengan agen periklanan yang juga bertanggung jawab terhadap PR FDP tersebut. Tahun lalu upaya Jürgen Möllemann untuk mencalonkan Westerwelle untuk jabatan kanselir dari FDP sia-sia. Westerwelle sendiri menganggap ide itu sebuah lelucon promosi yang bersifat sementara dan terang-terang menolaknya. Jadi, bagaimana upaya mendongkrak posisi Westerwelle? Penggunaan istilah “partai kelas menengah ke atas” untuk FDP yang dulu pernah diproklamirkan Westerwelle harus dihapus dengan susah payah dari ingatan pemilih. Tapi itu saja tidak cukup. Harus ada strategi lain untuk mempromosikan Westerwelle. Oleh karena itulah dalam kampanyenya Westerwelle selalu mengatakan:” Kami tidak akan berpolitik untuk Stoiber ataupun Schröder. Kami melaksanakan kampanye sebagai partai yang bebas, independen.” Ini merupakan unsur sentral strategi kampanye kami, jelas Westerwelle selanjutnya. Tapi, apakah FDP dan bagian perencana kampanyenya telah memikirkan matang-matang ketika mencalonkan Westerwelle sebagai kandidat kanselir, pertanyaan itu sampai sekarang masih belum terjawab. Yang jelas, adanya kesalahpahaman antara tim kampanye yang di Düsseldorf dan tim pusat di Berlin telah membuat jarak antara kubu-kubu di FDP semakin besar. Dan masuknya anggota Landtag Jamal Karsli ke FDP yang sebelumnya kader SPD dan posisinya sempat diperdebatkan tersebut membuat musuh-musuh Möllemann punya kesempatan untuk membalas dendam. Belum jelas, apakah Möllemann nanti bisa melewati serangan musuhnya itu. Yang pasti adalah ahli strategi PR FDP sekarang harus lagi menyisingkan lengan baju – tanpa mengetahui secara pasti apa pesan kerja mereka.

Joschka Fischer – impian para pembuat iklan
Tahun ini Bündnis 90/Die Grünen juga harus ketar-ketir apakah mereka bisa kembali ke parlemen federal (Bundestag). Masalahnya, agar posisi mereka sebagai mitra koalisi dalam pemerintahan koalisi merah-hijau (SPD dan Die Grünen) lebih diperhatikan, partai yang dipimpin Joschka Fischer ini mau tidak mau harus membangun profil sendiri yang merugikan SPD. Die Grünen atau Partai Hijau berada dalam dilema program partai semenjak tema-tema tradisional yang biasa diusung partai ini seperti ekologi atau pasifisme tidak bisa mendongkrak jumlah suara. Dan bertentangan dengan ritual partai yang berbasis demokrasi ini Die Grünen tidak punya pilihan lain kecuali memusatkan kampanyenya pada sosok menteri luar negeri Joschka Fischer. Fischer adalah politisi Jerman yang paling disukai, mantan demonstran ini bahkan mendapat simpati dari kalangan kelompok kanan CDU/CSU. Dan apabila – seperti yang diperkirakan – terjadi showdown antara Stoiber dan Schröder, maka Partai Hijau akan menarik kalangan pemilih baru dengan cara menampilkan tema kebijakan pasar tenaga kerja dan tuntutan akan program pemberdayaan pemerintah di lingkungan yang secara tradisi ditinggali kaum kiri. Biaya untuk kampanye partai ini adalah 1,5 juta Euro.”Yang menentukan adalah mampu bereaksi secara fleksibel terhadap peristiwa-peristiwa politik”, demikian jelas Julian Scholl dalam sebuah wawancara. Scholl adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perencanaan iklan kampanye untuk Partai Hijau dan sekaligus memimpin tim kampanye “Zum Goldenen Hirschen”. Tim Hirschen yang beranggotakan 8 orang ini antara lain telah mengalahkan pesaingnya seperti Kolle Rebbe, Enfant Teribble atau Philipp Keuntje. Klien yang pernah ditangani oleh perusahaan periklanan yang tidak tergantung pada grup perusahaan iklan internasional ini antara lain departemen lingkungan hidup dan tenaga kerja serta departemen kerjasama ekonomi dan perkembangan. Harus bagaimana kerja PR atau Humas Partai Hijau yang sedang digoyang krisis ini? “Yang jelas tidak akan ada lagi kampanye lucu berdasarkan model kampanye FDP di Nordrhein-Westfalen” tegas manajer kampanye Partai Hijau Rudi Hoogvliet. Motiv plakat “Rache für Angie. Grün wählen” (Balas dendam untuk Angie. Pilihlah Partai Hijau) dan “kampanye 2002 – kami senang menyambut kalian!” sudah menghiasi gedung DPP pusat Partai Hijau di tengah kota Berlin. Di bawah tulisan “Kami senang menyambut kalian!” terpampang wajah-wajah masygul Stoiber, Westerwelle, Merkel dan Gysi. Tim Hirschen ingin membuat kampanye yang “lucu, penuh humor dan bernuansa baru”. Julian mengklaim kampanye yang ia rancang mengandung beberapa unsur, dari awalnya sudah mentransformasikan isi dan setiap waktu dapat melibatkan orang. Media yang digunakan tidak hanya media biasa seperti plakat atau iklan di TV. “Kami ingin terlihat mencolok dengan kampanye yang mengikuti jaman, bahasa modern dan aksi-aksi luar biasa. Kampanye kami juga akan berlangsung di tempat-tempat yang cenderung tidak cocok untuk Partai Hijau”, demikian janji Julian Scholl.

Siapa pendukung partai anak bawang PDS?
Berbeda dengan posisinya di beberapa parlemen daerah, di tingkat pusat PDS (Partai Sosialis Jerman) dianggap belum mampu dijadikan mitra koalisi. Kalau pun berhasil mengirimkan beberapa wakilnya di parlemen federal, itu tak lebih dari posisi sebagai oposisi. Jasa PR untuk PDS untuk ketiga kalinya diserahkan kepada agen periklanan Trialon yang berasal dari daerah kecil Pankow di timur Berlin. Ketua harian Trialon yang sudah menjadi konsultan kampanye sejak masa Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) ini menolak tuduhan bahwa perusahaannya akan ‘memberikan’ bonus suara pada PDS, partai penerus SED (Partai Sosialis di era Erich Honecker). Ia berkilah,”bisa saja perusahaan iklan dari daerah barat yang memenangkan tender konsultan ini.” Tidak ada keterangan tentang fokus yang direncanakan dalam kampanye yang diorganisasikan Trialon ini. Yang ada hanyalah keterangan tentang biaya yang akan dikeluarkan: sekitar 4 juta euro. Untuk melepaskan PDS dari kesan partai pengikut stalin tim Trialon mencoba untuk menciptakan citra modern. Yakni dengan cara menampilkan partai yang perolehan suaranya masih sangat tergantung pada pemilih di timur ini sebagai partai yang “segar, muda, modern dan liar”, khususnya di daerah barat. Kepada harian TAZ, Strutz, ketua harian Trialon, menggambarkan hasil kerja mereka untuk kampanye PDS hanya dengan satu kalimat:”Saat ini PDS terlihat lebih muda, lebih dinamis dan lebih berani dari yang sebenarnya”. Pakar iklan ini sendiri tidak yakin apa dengan yang dikatakannya. “bagi kami PDS adalah merek dagang”, demikian katanya, “layaknya sabun cuci yang harus dijual”. Sejak 1994 enam staf bekerja sama dengan satu tim yang terdiri dari karyawan lepas pada “Corporate Design”. PDS adalah klien terbesar perusahaan tersebut. Diperkirakan sosok Gysi yang sekarang menjabat senator ekonomi di Berlin akan menjadi sentral dari setiap kegiatan kampanye PDS kali ini, karena salah satu dari sedikit politisi PDS yang memiliki simpati besar publik, termasuk di luar kubu mereka sendiri.

http://www.forum-politisi.org/pusat_data/umum/article.php?id=11, Google, 01/11/2007, 10:06

Public Relation part2

Public Relation untuk Lembaga Dakwah Kampus

Oleh: Hendratno, ST. *)

MUKADIMAH

Hudzaifah.org – Tulisan ini adalah kajian singkat seputar Public Relation. Tulisan ini hendak menfokuskan diri kepada public relation bagi sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Tapi tidak tertutup kemungkinan untuk bisa diterapkan di bentuk lembaga lainnya. Karena pada dasarnya public relation adalah kebutuhan umum bagi sebuah organisasi. Bahkan sebuah negara pun membutuhkan fungsi Public Relation ini di dalam struktur kenegaraannya, untuk berkomunikasi dengan warganya sendiri dan entitas lain di luar negeri.

Public Relation (PR) atau kadang disebut dengan istilah Hubungan Masyarakat (humas) memiliki posisi yang sangat penting dalam sebuah organisasi, terutama bila organisasi tersebut sering berinteraksi dengan masyarakat luas. PR sangat menentukan perwajahan organisasi tersebut di mata masyarakat luas. Hal tersebut disebabkan karena PR-lah yang merupakan salah satu front liner penting dalam berkomunikasi dengan masyarakat. PR menentukan kesan positif sebuah organisasi di mata masyarakat. Dan hubungan dengan masyarakat akan menentukan bagaimana organisasi tersebut bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, PR juga berperan dalam membangun hubungan, khususnya hubungan komunikasi, antara organisasi dengan masyarakat luas. Untuk itu, di dalam sebuah PR sangat penting untuk bisa mengelola manajemen komunikasi.

[More:]

Bila sebuah organisasi tidak memiliki PR, sebenarnya bukan tidak mungkin organisasi tersebut bisa menjalin hubungan komunikasi dengan masyarakat. Namun tanpa keberadaan PR, biasanya fungsi-fungsi hubungan masyarakat akan tidak terurus dengan baik, karena agenda-agenda organisasi begitu banyak. Akhirnya hal tersebut kadang kala menyebabkan terjadinya hubungan komunikasi yang kurang baik, bahkan bisa menyebabkan miscommunication dengan masyarakat. Oleh karena itulah keberadaan PR sangat dibutuhkan dalam hal spesialisasi mengurus hubungan dengan masyarakat luas.

Selain itu, kebutuhan akan keberadaan PR menjadi sangat penting di era informasi ini. Di zaman sekarang, masyarakat luas sudah sangat mudah dalam mengakses informasi, baik itu dari televisi, koran, majalah, internet, radio, dan sebagainya. Namun informasi-informasi yang mereka dapatkan, tidak selalu merupakan informasi yang benar. Adakalanya masyarakat akan mendapatkan informasi yang keliru. Kalau dikaitkan dengan sebuah organisasi, maka informasi yang keliru itu bisa ditimbulkan karena organisasi tersebut tidak memiliki fungsi PR di dalamnya. Informasi yang keliru tersebut bisa timbul dari opini masyarakat ataupun dari pemberitaan media massa. Di sinilah sebuah organisasi sangat membutuhkan PR untuk mengcounter informasi-informasi keliru yang barangkali perlu diluruskan. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, bahwa bentuk informasi yang diterima masyarakat itu akan membentuk penyikapan masyarakat kepada organisasi kita. Bila informasi yang mereka terima adalah informasi yang keliru, maka mereka akan menyikapi organisasi kita dengan sikap yang tidak kita inginkan.

Bagi sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK), niscaya akan sangat membutuhkan fungsi PR ini di dalam tubuh organisasinya. Terutama bila sebuah LDK sudah memasuki fase/tahapan dimana LDK tersebut sudah mulai merambah untuk lebih intens berkomunikasi dengan masyarakat, khususnya masyarakat kampus. Ruang lingkup aktivitas LDK juga menuntut keberadaan PR, misalnya pada ruang lingkup amal da’awi (pembinaan dan syi’ar), amal khidami (pelayanan), amal ilamy (penerbitan), amal siyasi (perpolitikan), dan seterusnya. Tanpa keberadaan LDK, aktivitas LDK bisa jadi tidak banyak yang mengetahuinya. Jika demikian, maka tidak heran ada beberapa LDK yang dicap sebagai organisasi eksklusif.

Apalagi, sebuah LDK itu mengusung kata-kata “dakwah” di dalamnya. Dakwah itu pada dasarnya menyeru, menyampaikan. Maka komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Di dalam Al Qur’an sendiri banyak sekali ayat-ayat yang diawali dengan kata-kata: “Sampaikanlah…”, atau dengan “Katakanlah…”. Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa LDK membutuhkan PR yang professional dalam berkomunikasi.

Dan masih banyak lagi manfaat yang bisa didapatkan dari fungsi PR ini. Saking pentingnya PR, sudah banyak perusahaan bisnis yang membuat sistem informasi untuk mengelola kehumasan dengan para customernya. Sistem informasi yang berkaitan dengan ini biasanya disebut dengan CRM (Customer Relationship Management). Dan Untuk sebuah organisasi non-profit, kehumasan bisa juga dimanfaatkan untuk fund-raising, menjalin kerjasama, rekrutmen, dan sebagainya.

Lalu seperti apakah bentuk PR bagi sebuah LDK? Tulisan ini hendak memberikan gambaran sederhana tentang apa dan bagaimana PR untuk sebuah LDK. Untuk itu, mari kita telaah dahulu apa saja yang sebenarnya perlu disampaikan dari LDK kita kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat kampus kita sendiri.

ENTITAS YANG PERLU DISAMPAIKAN

Beberapa entitas yang perlu disampaikan kepada masyarakat luas itu antara lain adalah:

1. Sikap resmi

Dalam menyikapi beberapa peristiwa, baik itu di dalam kampus maupun di luar kampus, LDK pasti punya sikap resmi. Agar sikap tersebut diketahui secara luas, maka perlu disampaikan kepada masyarakat. Misalnya, bagaimana sikap LDK terhadap kenaikan biaya SPP, terhadap penjajah sebuah negara terhadap negara lainnya, terhadap korupsi, dan sebagainya.

2. Informasi/undangan agenda kegiatan

Pada umumnya, LDK mempunyai kegiatan yang ditujukan untuk umum, misalnya tabligh akbar, pesantren kilat, seminar, training, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan seperti itu perlu disampaikan kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang menjadi sasaran peserta. Juga untuk menunjukkan eksistensi LDK, bahwa LDK sangat aktif berperan di masyarakat.

3. Wacana pemikiran

Ini adalah salah satu pekerjaan inti dari sebuah LDK, yaitu menyebarkan wacana pemikiran, tentunya pemikiran fikrah Islamiyah. Dan ini sangat perlu untuk disampaikan kepada masyarakat.

4. Berita

Berita-berita dari internal LDK juga perlu disampaikan kepada masyarakat. Misalnya, LDK baru saja mengadakan bakti sosial di daerah tertentu, atau LDK baru saja mengadakan training dengan harapan tertentu, ucapan terima kasih, dan sebagainya.

5. Dan lain-lain

Masih banyak lagi entitas dari sebuah LDK yang bisa disampaikan kepada masyarakat. Misalnya himbauan untuk menghormati yang puasa ketika bulan Ramadhan, seruan membantu korban bencana, ajakan kepada UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) lainnya untuk turut mengikuti kegiatan LDK, dan sebagainya.

Entitas yang disampaikan dari LDK, bisa berupa:
- Teks/naskah
- Foto/Grafik/dll
- Audio/visual
- Media online (situs web)
- Dll

SARANA DAN CARA PENYAMPAIAN

Lalu dalam menjalin komunikasi dengan masyarakat luas, tentu membutuhkan sarana dan cara penyampaian. Setiap sarana dan cara penyampaian, harus disesuaikan dengan siapa yang dituju, dan apa isi yang akan disampaikan. Berikut ini adalah beberapa sarana dan cara penyampaian dalam hal kehumasan:

1. Konferensi Pers

Konferensi pers adalah suatu bentuk acara formal yang mengundang wartawan maupun pihak-pihak lain. Biasanya untuk menyampaikan sikap atau pernyataan resmi yang sangat penting untuk diketahui oleh umum. Untuk mengadakan Konferensi pers, LDK harus mengundang wartawan atau media secara resmi, bisa melalui surat, email, telp, maupun fax. Setelah penyampaian sikap, biasanya ada sesi tanya jawab atau wawancara.

2. Press Release

Press Release merupakan sebuah pernyataan resmi, umumnya dalam bentuk surat pernyataan. Press release ini dikirim kepada redaksi-redaksi media, bisa melalui fax, email, surat, dan sebagainya. Press release juga bisa sebagai alternatif bisa sulit mengadakan konferensi pers. Press release juga bisa disampaikan misalnya ketika LDK mengadakan aksi demonstrasi, aksi sosial, dan sebagainya, langsung dibagikan kepada masyarakat melalui lembaran-lembaran, dan sebagainya.

3. Siaran TV/Radio

Bila LDK mempunyai hubungan yang baik dengan stasiun TV atau radio, LDK bisa saja memanfaatkannya untuk menyampaikan segala sikapnya. LDK juga bisa memanfaatkan acara-acara di TV/Radio yang dikhususkan untuk kekampusan, misalnya acara Metro Kampus di MetroTV, dan sebagainya.

4. Surat Undangan

Misalnya untuk mengundang UKM-UKM lain untuk turut serta dalam kegiatan LDK yang terbuka. Atau mengundang buka puasa bersama, undangan seminar, mengundang mengirimkan perwakilan dalam pesantren kilat, dan sebagainya. Surat undangan ini kadangkala sering dilupakan oleh LDK. Padahal dengan sebuah surat undangan yang rapi dan formal, yang diundang akan merasa dihormati. Bentuk undangan juga menentukan penampilan LDK di mata lembaga lainnya.

5. Advertising

Misalnya bila di kampus ada media penerbitan/jurnalistik, bisa saja LDK memasang iklan di media tersebut, dengan catatan biayanya terjangkau oleh LDK. Iklan bisa berupa iklan layanan masyarakat, iklan kegiatan, iklan tentang media yang dimiliki LDK, iklan tentang bisnis yang dimiliki oleh LDK, dan sebagainya.

6. Kolom Surat Pembaca di Koran/Majalah

7. Selebaran/Brosur/Pamflet/Spanduk/Stiker/Baliho/dll

8. Buletin/Majalah/Koran

9. Situs web

10. Wawancara

11. Proposal Kerjasama.

12. Lobby-lobby

12. Dan lain-lain

SASARAN

Pihak-pihak yang menjadi sasaran untuk dijalin hubungan dengan (kehumasan) LDK, tentu sangat banyak sekali. PR harus bisa mendata mereka (entitas luar), terutama mereka yang sangat berkepentingan dengan LDK. Entitas luar bisa berupa personal (individu), organisasi (kelembagaan), ataupun masyarakat secara umum. Berikut ini beberapa klasifikasi entitias luar yang harus menjadi perhatian bagi PR LDK, yaitu:

1. Masyarakat secara luas (baik masyarakat kampus maupun luar kampus).

2. Tokoh-tokoh masyarakat (baik yang di kampus maupun di luar kampus).

3. UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) lainnya.

4. Ormawa (BEM, Kepresidenan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, dan yang sejenisnya).

5. Lembaga penyelenggara pendidikan (Yayasan, Rektorat, Fakultas, Jurusan, dan sebagainya).

6. Lembaga-lembaga mahasiswa ekstra/antar kampus.

7. Media pers (baik yang internal kampus maupun pers lokal/nasional/internasional), yang cetak, radio, televisi, internet.

8. Lembaga pemerintahan (Kepresidenan, MPR, DPR, dan sebagainya).

9. LDK-LDK lainnya yang ada di universitas lain.

9. LSM-LSM / NGO, Partai Politik, atapun ormas-ormas.

10. Lembaga professi.

11. Lembaga penelitian.

12. Dan sebagainya (masih banyak sekali).

Kita sudah melihat bahwa entitas luar itu sangat banyak. Maka, sebuah PR harus bisa membuat databasenya, skala prioritas sesuai dengan momen/kejadian, database kontak person, pengetahuan terhadap karakteristik setiap entitas, dan sebagainya. PR juga harus mengetahui protokoler resmi, terutama bila berhadapan dengan lembaga resmi seperti lembaga pemerintahan. Isu-isu sosial serta etika umum di masyarakat juga harus menjadi perhatian bagi PR.

Dan ada satu hal lagi yang harus menjadi perhatian. PR juga harus menyediakan ‘channel’ untuk menerima feedback dari dunia luar. Hal ini untuk membentuk komunikasi dua arah antara organisasi dengan dunia luar. Channel yang dimaksud bisa berupa alamat sekretariat (alamat surat), nomor telepon, HP, fax, email, situs web yang interaktif, dan sebagainya. Mengenai channel mana yang dipilih untuk digunakan oleh LDK, itu tergantung kebutuhan dan kemampuan LDK. Pada umumnya, alamat surat dan telepon merupakan standar yang harus sudah ada. Dan jangan lupa, ‘channel’ tersebut harus dicantumkan di setiap sarana-sarana kehumasan. Misalnya, ketika membuat press release, jangan lupa cantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Dan seterusnya.

Demikianlah uraian singkat mengenai PR bagi sebuah LDK. Sebenarnya, tentang kehumasan ini ada ilmunya tersendiri. Untuk itu, tidak ada salahnya jika LDK mengadakan pelatihan khusus tentang kehumasan/PR bagi anggota-anggotanya. Tapi mudah-mudahan, artikel singkat ini bisa memberikan inspirasi kepada LDK agar bisa mengatur (manajemen) dan intens dalam menjalin hubungan komunikasi dengan berbagai pihak di luar sana. []

*) Alumni T. Informatika Universitas Trisakti
Permalink
5 comments • Trackback (0)
Trackback address for this post:
http://www.hdn.or.id/htsrv/trackback.php/83, Google, 01/11/2007, 9:56

Public Relation part1

PKS JakSel : September lalu, Humas DPD Jaksel dengan difasilitasi Humas DPW menggelar pelatihan kehumasan. Ada beberapa materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Mengingat kendala upload materi, redaksi secara berseri mencoba menulis ulang untuk Anda para pembaca setia situs DPD. Juga diperuntukan bagi kader yang tidak hadir, dan kader dakwah dimanapun berada. Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.

Materi pertama tentang Pengenalan Humas atau lebih tepatnya Public Relation. Materi ini langsung disampaikan oleh Ketua Bahumas DPW PKS DKI Dedi Supriadi, S.Sos.

Definisi PR

Public Relations (PR) is planned, persuasive communication designed to influence significant public
Aspek-aspek dalam PR adalah :
 Perencanaan,
 Pengaruh, dan
 Khalayak terukur

Tentang Publik :

 Those who know you and like you (mengenal dan menyukai)
 Those who know you and don’t like you (mengenal dan tidak menyukai)
 Those who neither you nor care you (tidak kenal, maka tidak suka)

Tujuan PR adalah mempengaruhi agar punya pengertian dan keberpihakan yang lebih baik.

Perbedaan PR dengan bidang ilmu lain:
 If I tell you I am handsome/gorgeous and exciting, that is advertising
 If somebody else tells you I am handsome/gorgeous and exciting, that is sales promotion
 If you come and tell me you have heard I am handsome/gorgeous and exciting, that is public relations

Fungsi PR :

 Mengejar kepercayaan, goodwill, saling pengertian dan citra baik di tengah publik lembaga ybs.
 Membentuk opini yang favourable dan menguntungkan semua pihak
 Mendukung manajemen/lembaga untuk tujuan yang spesifik
 Merawat hubungan yang harmonis antara satu lembaga dengan publiknya untuk terjaganya citra baik lembaga.

Kerja PR
(Berdasarkan PR Mix dari Philip Kottler “Megamarketing� dan Thomas L. Harris dalam “Marketer’s guide to Public Relations):
1. Publication – lebih kepada menghadirkan internal media kepada publik.
2. Event – menyusun atau merancang event sehingga bisa menciptakan opini yang diinginkan. Ada dua jenis event: Calender Event (PHBI, hari nasional dll) dan Momentum Event (launching product, peristiwa gembira atau sedih, peresmian kantor dll).
3. News – via press release, press conference
4. Community Involvement – penggarapan publik-publik khusus seperti seniman, artis, pengusaha, jurnalis.
5. Inform of Image – pengemasan pesan untuk meraih citra positif
6. Lobbying and Negotiation -
7. Social Responsibility – kegiatan sosial

Sumber : Pelatihan Kehumasan, DPD-DPW PKS DKI, Ahad 23/9/2006, Poltekkes Cilandak.

(gustam)
http://www.pks-jaksel.or.id/Article951.html,google,30/10/2007 21.51

Newer entries » · « Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.