Menjadi PR – Penulis Skenario – Produser Acara TV
Sharing Pengalaman menjadi PR dan Penulis
Salam,Rekan, saya ingin menuliskan sebuah ringkasan singkattentang pengalaman pribadi saya dalam menerjuni duniaPR dan Broadcast Television secara bersamaan danmembentuknya sebagai sebuah strategi untuk melakukankegiatan PR-risasi
Tulisan ini sekedar memberikan masukan dari sebuahpengalaman, dan bukan sebuah dogma mutlak yang harus diikuti. Sekedar berbagi pengalaman, bagaimanamengembangkan konsep PR bermitra dengan mediatelevisi.
Dahulu kala :Sekitar tahun 1999, saya mulai terjun ke dunia PR. Sebelumnya saya bekerja sebagai wartawan sebuah tabloid teknologi informasi dan seorang penulis cerita bersambung untuk majalah HAI.
Background saya tidak’nyambung’, saya ditakdirkan kuliah di jurusan Ekonomi Manajemen S1 di Universitas Sebelas Maret Solo. Tahun1998, saya menulis sebuah buku dan diterbitkan oleh ANDI OFFSETT Jogja berjudul “Rahasia Pemrograman VirusKomputer”
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia di medio 1997sampai sekarang (?) mengubah haluan hidup saya.Tepatnya di bulan Juni 1999, saya mendapatkan tawaran menjadi seorang PR. Tugas saya sebagai Media Relation Officer, suatu tugas yang menurut saya tidak asing,yaitu menjalin kemitraaan dengan rekan-rekan pers media massa.
Awalnya, saya agak canggung menekunidunia baru ini, tapi berkat bimbingan rekan-rekan senior, saya merasa ‘pede’ membawakan penampilan barusaya sebagai seorang Praktisi PR.
Tugas saya cukup melelahkan, bayangkan, setiap harisaya harus melakukan komunikasi dan melakukan terjemahan press release dan mengirimkannya ke 20 media massa ternama di Indonesia. Klien saya adalah 2 perusahaan IT , Cisco dan oracle.
Cisco adalah perusahaan IT yang berfokus pada networking, sedangkan Oracle adalah perusahaan IT dengan fokus pembuatan sistem database.Dalam 3 bulan pertama, saya dibuat ‘pening dan overload’ terhadap segala informasi yang disediakan klien saya.
Tahun segitu, baru diperkenalkannyaistilah-istilah Voice Over IP, VPN, Oracle 9, dan ratusan istilah baru yang mengedepankan istilah networking computer. Alhamdulillah, saya termasuk beruntung bisa menyerap informasi-informasi ini, paling tidak, klien saya berhasil ‘mendidik’ saya menjadi ‘pecandu’ dunia IT kelas berat!
Semua informasi yang saya dapatkan, saya kelola menjadi sebuah press release dengan bahasa jurnalistikyang lebih enak dicerna. Sebagai gambaran saja, saat itu wartawan-wartawan desk IT di Indonesia baru sajadisadarkan akan arti pentingnya proses belajarterhadap perkembangan dunia IT. Mereka ‘dipaksa’melahap perkembangan informasi terkini tentang duniateknologi komputer. Apalagi sejak mereka mulaiberhubungan dengan dunia internet, mereka harusbelajar lebih banyak agar tidak ketinggalan.
Awal mulanya cukup lucu, klien saya, Cisco Systems,sering mengeluh jika banyak wartawan yang tidak cukup’terdidik’ untuk bertanya. Terang saja saya jawab, bahwa teknologi CISCO itu tergolong baru dan butuh waktu untuk mencernanya. Para wartawan butuh proses untuk mengetahui inti informasi dan bukan sekedar asal jiplak dari press release yang dibuat.
Sebagian wartawan ternyata memiliki kesadarantersendiri untuk ‘mengupgrade pengetahuan mereka’. Dan biasanya, mereka berasal dari majalah atau desk job di wilayah teknologi informasi. Boleh dibilang, mereka cukup cerdas dan kritis terhadap informasi yang saya coba kemas dalam sebuah paparan jurnalistik.
Diantara sekian banyak wartawan, saya berkenalan dengan beberapa teman dari RCTI. Mereka saat itusedang menggiatkan rubrik INFOTEK – Nuansa Pagi. Sebuah sub program dari acara berita Nuansa Pagi RCTI.Ternyata mereka mempunyai visi untuk membanguninformasi berguna bagi masyarakat di bidang teknologiinformasi.Dari situlah, saya berkenalan dengan dunia televisi!Dunia televisi – Media Impian!
Terus terang, sejak berkenalan dengan teman-teman diRCTI, saya jatuh cinta dan tertarik mendalami duniatelevisi. Lalu mampirlah saya ke kawasan Kebon Jeruk,berkenalan dengan para pemimpin redaksi dan rekan-rekan reporter di sana. Sekaligus menimba ilmu bagaimana sebuah produksi dibuat dan ditayangkan.
Aktifitas saya ini ternyata disokong olehsenior-senior saya di kantor. Mereka meminta saya menjalin kemitraan yang lebih erat dengan teman-teman dari media televisi. Tentu saja saya mengerti tujuannya, kita ingin melakukan ‘ekspos’ sebuah acara dari klien-klien kita dengan menggunakan media televisi dengan sebuah strategi PR
Lalu saya melakukan presentasi ke klien saya, intinyaadalah bagaimana meningkatkan image perusahaan dengan menggunakan media televisi tanpa harus beriklan!
Ide saya ini disambut hangat oleh para klien. Merekameminta saya selalu mengundang teman-teman daritelevisi untuk hadir di setiap acara yang mereka buat. Masalahpun timbul, mengundang teman-teman wartawan televisi untuk hadir, tidak semudah mengundang wartawan-wartawan media cetak.
Beban pekerjaan dan tidak sesuainya jadwal adalah sebuah tantangan yangharus dipecahkan. Alhasil, akhirnya saya membuat skedul panjang sebelum memulai sebuah aktivitas (presrelease, seminar dsb.).
Saya selalu menyesuaikan jadwal aktifitas dengan ketersediaannya waktu dan’kebisaan’ para wartawan TV untuk hadir meliputnya.Setiap aktifitas yang saya selenggarakan adalah sebuah ujian. Jantung saya berdebar dan naik turun, manakala acara yang saya buat tidak/belum dihadiri oleh parajurnalis televisi.
Namun kelegaan luar biasa baru bisadidapat, apabila saya berhasil membuat acara aktifitas klien yang ditayangkan di televisi. Saya merasa puas bisa memberikan yang terbaik, tayang di media televisi!
Terus terang, saya menikmati pekerjaan saya saat itu.Namun tantangannya tidak berhenti di situ saja,tiba-tiba saja datang permintaan-permintaan ajaib daripara klien yang ingin mendapatkan ekspos lebih terhadap aktifitasnya.
Suatu hari saya mendapatkan permintaan ‘ajaib’ darisalah seorang klien saya :”Mas, saya minta tolong, saya ini hobby berenang danmenyelam, saya ingin ada televisi yang maumemberitakan aktifitas saya ini!”
Saya bengong mendengarkan permintaan klien saya…terus terang, idenya sederhana, tetapi membuatnya menjadi sebuah kenyataaan yang ditayangkandi stasiun televisi adalah hal yang…….waduhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!
” Tolong ya Mas? Besok minggu ya? Saya maumelakukannya di SEAWORLD Ancol! Saya berharap merekamau merekam kegiatan saya dan ditayangkan diRCTI…Oke?”
Saya bingung setengah mati, kalau udah masuk tahap permintaan seperti ini, sama saja memberikan tugasberat dengan waktu singkat!
Pimpinan saya berusahamenyemangati saya :”Saya yakin kamu mampu, coba kamu minta teman-teman diRCTI untuk melakukannya. Toh ide klien kita itu unik,menyelam di Seaworld! Keren kan?”
Tinggal 5 hari, saya masih pusing, dan akhirnya saya nekat ngobrol ke teman-teman di RCTI. Saya bingung cerita kemereka tentang permintaan klien sayaini….tapi…..Semula ide saya ini dianggap iseng belaka,
tiba-tibaseorang rekan senior RCTI bilang begini :”Gila…bagus tuh idenya! Saya mau! Ayo kapan? Besok?”
Plonggggggggggggggggg……saya bersorak girangbanget….saya buru-buru telepon ke kantor dan memberitakan bahwa permintaan klien di setujui! Dan itu nggak perlu pake’ budget ‘sesen pun!’
Dan akhirnya, tayangan tentang klien saya yang berenang dan menyelam di akuarium Seaworld ditayangkanRCTI sebanyak 2 kali! Lega dan senang bangetrasanya….!
Tantangan ANEH lainnya! Sejak saat itu, saya lebih percaya diri dalam membangun kemitraan dengan para wartawan-wartawanmedia televisi. Tidak hanya dengan televisi swasta,bahkan saya berhasil memasukkan setiap kegiatan kliens aya ke TVRI.
Namun disaat yang sama, ada kejadian lucu lainnya,salah seorang klien saya meminta diliput televisi untuk aktifitas pribadinya. Klien saya ini seorangMarketing Communication Officer, cantik dan menggemaskan. Hobinya bikin Kue!
Dan dia meminta sayamembuat sebuah liputan tentang hobinyatersebut…..walaaaaaaaaaaaahhh…Sekali lagi saya curhat ke teman saya di televisitentang permintaan unik tersebut.
Dan sekali lagi permintaan saya diluluskan, dengan catatan, klien saya harus mau memasaknya di kantor dan menggunakan background server komputer!
Waduh? Saya girang bercampur takjub. Pas waktusyuting, terjadi kelucuan, masakan yang seharusnya dipraktekan pada saat cara memasaknya, terpaksa harus diganti dengan adegan ngobrol. Alasannya? Karena meletakkan kompor gas yang menyala didepan serverkomputer sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kebakaran!
Hehehehe….walhasil…hasil tayangannya jadi campur aduk…dunia kantor IT dengan berbagaimasakan khas buatan MarkComm nya…!!!!
http://tvlab.blogspot.com/2007/07/menjadi-pr-penulis-skenario-produser.html, Google, 04/11/2007, 11.40